Mesin ADM

Jakarta – Direktorat Jenderal (Ditjen) Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bukan cuma berlari tapi terus meloncat dari lompatan satu ke lompatan lainnya. Setelah me-launching Dukcapil Go Digital yang ditandai perubahan paradigma kerja manual ke digital, kini Ditjen Dukcapil berinovasi dengan Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM).

ADM tak lain mesin pencetak dokumen kependudukan mulai dari Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el), Kartu Keluarga, Kartu Identitas Anak (KIA), akta lahir dan akta mati. Bentuknya tak ubahnya mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang dikenal lama oleh sektor Perbankan. 

“Alhamdulillah, setelah berkali kali kita gagal dalam uji coba. Akhirnya sekarang berhasil  “memindahkan” sebagian pegawai, alat alat dan kantor menuju satu aplikasi dalam mesin,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Dukcapil Kemendagri Prof. Zudan Arif Fakrulloh di kantor Ditjen Dukcapil Kalibata, Jakarta, Jumat (15/11).

Zudan menjelaskan, dengan adanya ADM ragam pelayanan administrasi kependudukan (Adminduk) semakin mudah dan cepat. Masyarakat yang membutuhkan dokumen kependudukan bisa langsung ke kantor Dukcapil, mengurus secara online, dan sekarang melalui mesin ADM.

“Inovasi ini dirancang khusus agar masyarakat bisa mencetak dokumen dengan cepat, mudah, gratis dan berstandar sama tanpa diskriminasi. Melalui ADM, kita bisa mencetak sendiri KTP-el, KIA, akta lahir, kartu keluarga, akta mati,” ungkapnya. 

Zudan memaparkan, sistem bekerja dengan pengamanan nomor induk kependudukan (NIK), PIN dan QR Code. Mesin ADM ini akan masuk dalam e-catalog. Ditargetkan tahun ini sudah dapat diimpelementasikan di berbagai daerah.

“Sejauh ini daerah sudah banyak yang mau beli. Saya yakin kepala daerah yang ingin memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat pasti butuh,” ungkapnya.

Kasubdit Sistem Informasi Administrasi Kependudukan Dukcapil Erikson P Manihuruk menjelaskan cara kerja ADM ini. Sama seperti menggunakan ATM untuk mengambil duit nasabah harus teregistrasi terlebih dahulu di bank. Begitu juga pemohon dokumen kependudukan melalui mesin ADM harus teregistrasi di kantor Dukcapil setempat. 

“Setiap penduduk harus teregistrasi terlebih dahulu di Dukcapil. Setelah itu akan diberi nomor PIN lewat SMS ke telepon genggam masing-masing,” jelas Erikson.

PIN yang diberikan ada dua jenis. Pertama, untuk masuk ke dalam sistem yang ada di ADM. Kemudian, PIN untuk mencetak data kependudukan. Tiap data kependudukan akan diberi masing-masing PIN dan bisa digunakan hanya sekali pencetakan.

Misalnya PIN untuk mencetak KTP-el, KK, KIA, akta lahir dan lain-lain. Selain PIN, juga akan diberikan QR (quick response) code atau kode dalam bentuk barcode lewat e-mail masing-masing.

Setelah memiliki PIN atau QR code, masyarakat sudah bisa menggunakan ADM yang rencananya bakal ditempatkan di area-area publik seperti mall, perkantoran, pasar dan pusat keramaian lainnya.

Pada tampilan awal mesin ADM ada tiga menu pilihan. Pilih salah satu, sidik jari, NIK atau QR code untuk mencetak data kependudukan yang diinginkan.

Katakanlah memilih menu sidik jari, setelah menu ditekan akan muncul gambar sepuluh jari. Silakan pilih salah satu jari yang ingin digunakan, isi NIK di kolom yang ada, dan gunakan jari Anda menekan pada tempat yang tersedia.

Kemudian akan muncul perintah silakan cetak, disertai tampilan menu mau menggunakan PIN atau menggunakan QR code. Jika memilih menggunakan PIN, Anda harus mengisi kolom dengan PIN yang sebelumnya dikirimkan lewat SMS. Setelah itu fisik KTP-el akan keluar dari ADM.

Proses dari pertama kali menggunakan ADM hingga KTP-el tercetak hanya butuh waktu 1 menit 30 detik. Proses lebih cepat jika memilih menggunakan menu QR code, hanya butuh waktu sekitar satu menit. Begitu juga untuk mencetak Kartu Keluarga atau akta-akta lainnya, dokumen dicetak di atas kertas putih biasa bukan di kertas security berhologram. Sebagai gantinya dan bernilai security yang sama yakni kertas putih tersebut sudah menggunakan QR code tadi.

“Kalau sudah teregistrasi, itu PIN atau QR code akan berlaku dua tahun. Karena takut disalahgunakan. Selain itu juga untuk memastikan orangnya masih ada apa enggak,” kata Erik memungkasi. Dukcapil***https://dukcapil.kemendagri.go.id/berita/baca/318/masin-adm